Pages

May 13, 2012

Pendidikan yang Membebaskan


 
Joy Lobo, seorang mahasiswa ICE, dalam sebuah film India berjudul 3 Idiots, bunuh diri di kamarnya. Ia gantung diri setelah menuliskan kata “I Quit” di tembok kamarnya. 
 
Joy Lobo depresi karena tugas akhirnya tidak diterima sehingga ia tidak dapat lulus tahun itu. Saat pemakamannya, ‘si Idiot’ Rancho yang diperankan Amir Khan berkata dengan penuh penggugatan kepada sang rektor ICE.

“Semua orang akan berpikir itu bunuh diri. Penyebab kematian yang ditulis adalah tekanan hebat di rongga pernapasan yang menyebabkan sesak. Bodoh sekali mempercayainya. Mati tercekik di sini (rongga pernapasan). Padahal selama empat tahun tertekan di sini (pikiran). Bagaimana? Yang ini memang tidak dilaporkan. Para mahasiswa ini mempunyai hati. Bukan mesin yang bisa terus menahan terkanan di sini (pikiran). Andai memahami, mereka akan tahu, ini bukan bunuh diri. Ini pembunuhan.”
Bukankah pernyataan si Idiot tersebut menampar wajah sistem pendidikan kita.

Selama ini siswa diliputi ketakutan-ketakutan. Siswa hidup dalam lingkaran ketakutan yang berlapis-lapis, sedangkan ia tidak tahu bahwa ketakutan-ketakutan itu hanyalah fatamorgana di padang Sahara. Ketakutan-ketakutan itu bukanlah nyata, hanya semu, sebagai debu yang menempel di kaca jendela yang akan hilang hanya dengan kita ditiup.

Siswa yang tidak lulus ujian akan dipandang sebagai manusia paling bodoh sedunia. Nilai menjadi semacam legitimasi untuk mencap seorang siswa bodoh, pandai, cerdas, idiot. Nilai dalam ujian dipadang sebagai nilai diri siswa. Mendapatkan nilai tinggi berarti nilai diri menjadi terangkat ke puncak gunung. Mendapat nilai terjelek berarti menempatkan diri di dasar jurang terdalam. Begitulah setidaknya yang kita tangkap dalam realitas pendidikan kita. Maka, tak heran jika banyak siswa yang tertekan, karena memang setiap hari mereka ditekan. 
 
“Kamu bodoh, tidak lulus, utak udang, masa depanmu suram, tidak pantas sekolah di sini”, “Belajar yang rajin agar lulus dengan nilai bagus, agar mendapat pekerjaan yang layak, agar masa depanmu cerah, agar kamu sukses”. Begitulah selama ini siswa digiring ke dalam lingkaran ketakutan. Maka, tak heran pula ada yang namanya musim belajar. Para siswa ramai-ramai belajar pada saat akan ujian, bahkan sampai ikut lembaga bimbingan belajar, belum lagi pihak sekolah mengadakan les tambahan di luar jam pelajaran. Pada saat tidak ada ujian, mereka belajar sesuka hatinya.

Bahkan, yang juga memprihatinkan –sekaligus menggelikan menurut saya– adalah Tuhan pun disuap dalam ‘tawar menawar’ nilai. Saat masa ujian, ramai-ramai orang beribadah, tempat ibadah yang biasanya sepi menjadi penuh, doa-doa dipanjatkan. Dzikir-dzikir didengungkan. Sekolah-sekolah mengadakan dzikir dan doa bersama, beribadah bersama. Begitulah memang watak manusia, ingat Sang Mahakuasa saat keadaan sulit.

Pendidikan yang berorientasi pada nilai membuat aktivitas belajar siswa menjadi kurang bernilai, siswa belajar untuk mendapakan nilai saja. Siswa belajar mestinya dengan sukarela, dengan senang hati, dan kesadaran penuh atas pentingnya belajar. Apalah hasil dari belajar tersebut berupa nilai yang baik atau nilai jelek, setidaknya siswa sudah belajar. Ketika nilai menjadi panglima, pusat tujuan dari aktivitas belajar mengajar, maka aktivitas belajar sesungguhnya sudah tereduksi. 
 
Makna pendidikan yang sebenarnya sudah dipersempit hingga nilai pendidikan disamakan dengan nilai raport atau nilai ujian. Pendidikan mestinya tidak memaksa. Bukankah pendidikan merupakan upaya sadar. Tidak ada paksaan, tidak ada ketakutan, tidak ada bunuh diri atau ‘pembunuhan’ seperti kata si Idiot.

Upaya untuk membangkitkan kesadaran siswa untuk mau belajar dengan sungguh-sungguh memang tidak semudah membuat telor dadar atau secepat memesan makanan siap saji. Butuh proses, butuh waktu, butuh kesungguhan. Kesungguhan siapa? Kesungguhan kita, siswa, masyarakat, pemerintah. Kita semua. Mari kita jadikan sistem pendidikan kita sebagai pendidikan yang membangkitkan bukan pendidikan yang menabur ketakutan dan melemahkan. Pendidikan yang membebaskan bukan membelenggu dan memenjara. Pendidikan yang memotivasi siswa untuk menjadi manusia terdidik bukan manusia dengan cap nilai di keningnya.

Sukrisno
Sukoharjo, 17 Mei 2011
00.15 WIB



No comments:
Write comments