Pages

November 25, 2015

Guru yang Dikenang

Saya guru yang bagaimanakah?

Saya baru ngeh kalau hari ini, 25 November, adalah hari guru setelah melihat kilasan berita di timeline media sosial yang menanyangkan acara peringatan Hari Guru yang dihadiri oleh presiden, para pejabat, dan ribuan guru yang berseragam putih. Maklum, saya takmudah mengingat-ingat hari dan tanggal peringatan nasional.

Murid-murid saya di kelas juga mengingatkan saya akan hari yang spesial bagi profesi guru ini dengan ucapan mereka, “Pak Guru, Selamat Hari Guru.”

Di Hari Guru ini, saya mengingat-ingat guru-guru yang pernah mengajar saya di SD. Dan, sungguh maafkan saya wahai Bapak Ibu Guruku, saya tak mahir dalam hal mengingat-ingat nama. Soal wajah dan sikap, saya memang masih ingat dengan mereka. Jika bertemu dengan salah satu guru di jalan, saya akan mengingat wajahnya, namun sayangnya seringkali saya lupa namanya.

Saya ingat, beberapa guru SD saya. Wali kelas saya yang murah senyum dan baik hati. Guru Olahraga yang penuh semangat dan sering menraktir. Guru Agama yang perawakannya besar dan suaranya keras, dan guru lainnya.

SMP dan SMA, saya mengingat beberapa nama guru dan sifat mereka. Masing-masing memiliki ciri khas dan kelebihan sendiri-sendiri. Namun, ada juga guru yang tak terlupakan saking galaknya.

Begitulah, ternyata guru-guru kita akan selalu dalam kenangan. Baik kenangan manis, pahit, suka, dan duka. Ada guru yang dikenang karena kesabarannya. Ada yang dikenang karena kegalakannya. Ada yang dikenang karena cara mengajarnya yang asyik. Ada yang dikenang karena sering menjadi tempat bercerita. Ada yang dikenang karena ketegasannya.

Saya pernah menanyakan kepada beberapa murid: siapakah guru yang paling diingat? Mereka mengingat-ingat dengan jelas guru-guru yang meninggalkan bekas atau kesan di hati mereka, baik itu kesan baik maupun kesan buruk.

Pada Hari Guru ini, ada satu pertanyaan yang menelusup di hati saya. Suatu hari nanti, saya akan dikenang sebagai guru yang bagaimanakah oleh murid-murid saya.

***
Sukoharjo, 25 November 2015

November 23, 2015

Kisah Sebutir Permen

Gambar hanya ilustrasi.

Inilah kisah sebutir permen pada suatu hari di sekolah.
Sebutir permen yang mencari pemiliknya.

Hari itu cuaca panas. Suasana gerah menyelubungi seisi sekolah. Untungnya, kelas di lantai dua –tempatku mengajar—masih terasa ada hembusan angin dari arah selatan. Mengurangi hawa panas dan gerah pada pelajaran Bahasa Indonesia pagi itu.

Pagi itu, sebelum mengajar, saya menyempatkan makan pagi di warung soto di pinggir jalan Tentara Pelajar. Setelah makan pagi, saya melihat di jok sepeda motor ada beberapa koin uang receh. Saya memang biasanya menaruh uang receh kembalian membeli sesuatu di jok sepeda motor. Terlintas dalam benak saya untuk membeli sebungkus permen.

Setelah menghitung uang receh yang ada, saya melaju ke minimarket terdekat. Saya memilih sebungkus permen seharga tujuh ribu rupiah. Harga sejumlah uang receh di dalam jok motor. Sebungkus itu berisi dua puluh butir permen.

Di dalam kelas, setelah menyampaikan materi tentang menulis naskah drama, saya meminta para siswi untuk membuat kelompok beranggotakan 7 orang. Tugas mereka adalah membuat naskah drama yang akan mereka pentaskan.

Sebelum saya menyerahkan waktu berdiskusi untuk mereka, saya merogoh kantong sambil berkata, “Sebelum kalian mengerjakan tugas ini, Pak Guru memiliki hadiah untuk kalian.”
Terlihat wajah-wajah yang berbinar mendengar kata hadiah.

Kemudian saya perlihatkan sebungkus permen itu. Saya tahu, sebutir permen bukanlah pemberian yang berharga, namun setidaknya itu yang bisa saya berikan. Dan saya tulus memberikannya. Harapan saya, mereka bisa merasa senang dengan pemberian yang tak seberapa itu.

Saya berkeliling kelas, menghampiri meja para siswi satu per satu. Saya serahkan kepada mereka langsung.
“Kenapa Pak Guru memberi permen?” tanya seorang siswi.
“Karena Pak Guru senang membuat kalian senang,” jawab saya sambil tersenyum.

“Pak Guru suka muter-muter, ya?” tanya seorang siswi yang duduk di kursi paling belakang setelah menerima sebutir permen. Maksud pertanyaan itu ialah mengapa saya berjalan keliling kelas untuk memberikan permen satu per satu.
“Karena kalau Pak Guru di depan terus, nanti yang di belakang merasa tidak terperhatikan.”

Ada sisa enam permen. Jumlah siswi di kelas ini lima belas, satu siswi absen. Enam permen itu masuk kembali ke dalam saku.

Jam pelajaran berikutnya, saya mengajar di kelas sebelah dengan jumlah 22 siswa. Pelajaran TIK dengan materi membuat brosur menggunakan aplikasi Microsoft Office 2007 atau 2010. Hanya ada tiga laptop di dalam kelas.

Setelah menyampaikan materi, saya meminta beberapa siswa untuk praktik. Saya mengiming-imingi hadiah sebutir permen bagi siswa yang mau praktik. Kemudian beberapa dari mereka berebut untuk praktik. Satu siswa menyelesaikan tugas, hadiah sebutir permen untuknya. Disusul siswa yang lain, hingga tersisa satu permen di tangan saya. Dan, waktu pelajaran pun usai. Beberapa siswa berebut meminta permen yang tinggal satu butir itu. Saya tidak memberikannya karena yang lain akan iri.

Saat akan shalat Dhuhur saya melihat seorang siswa yang akan wudhu. Saya teringat sebutir permen yang ada di dalam saku. Saya mau memberikannya kepada siswa tersebut, namun tiba-tiba temannya muncul dari dalam kamar mandi. Ternyata siswa tersebut bersama dua orang temannya. Saya pun tak jadi mengeluarkan permen tersebut. Permennya cuma satu, sedangkan mereka ada tiga. Saya tak mau bersikap tidak adil dengan memberikannya kepada salah seorang dari mereka.

Sebutir permen itu tetap menetap di dalam saku saat saya shalat Dhuhur. Pun, ketika saya mengajar jam terakhir. Jam pelajaran membaca Al-Quran yang berakhir ketika Ashar. Saat jam mengajar akan selesai, ada dua siswa yang terlihat bersitegang. Dua siswa yang berasal dari kelas yang berbeda. Awalnya mereka bercanda. Belum sempat saya menegur, mereka sudah terlihat saling mendorong. Terlihat amarah di wajah mereka.

Saya pun segera melerai mereka. Salah satu dari mereka saya minta keluar untuk wudhu –waktu itu adzan Ashar sudah berkumandang. Satu siswa saya minta duduk di tempat. Setelah beberapa saat, setelah amarah dan rasa jengkelnya reda, saya mengajak siswa yang duduk itu untuk wudhu.

Sebutir permen itu masih tak meninggalkan saku. Hingga shalat Ashar selesai.

Setelah shalat Ashar, saya memanggil dua siswa yang bertengkar tersebut. Setelah duduk tenang, saya bertanya kepada mereka.

“Siapa yang salah?” tanya saya.
“Saya yang salah, Pak,” jawab seorang dari mereka. 


“Siapa yang salah?” tanya saya kepada yang lainnya.
“Dia yang salah, Pak. Tapi, saya juga salah, Pak,” jawabnya.
Kemudian mereka bersalaman tanpa saya minta.

“Masalah ini biar diselesaikan oleh wali kelas,” kata saya. “Kamu besok sebelum Dhuhur silakan menghadap wali kelas kamu. Bilang bahwa kamu hari ini bertengkar. Mintalah nesehat dan mintalah hukuman. Mengerti?”
“Mengerti, Pak.”
“Kamu silakan keluar, pulanglah.”

Siswa tersebut kemudian bersalaman dengan saya dan keluar ruangan. Siswa yang satu lagi, karena saya wali kelasnya, saya yang menanganinya. Saya ingatkan kepadanya bahwa ia memiliki potensi yang baik, potensi sebagai pemimpin, dan lain-lain. Nasehat yang saya berikan tak sampai dua menit.

“Ini adalah kejadian yang pertama dan yang terakhir, mengerti?” kata saya. “Pak Guru tidak mau kamu ada masalah seperti ini lagi.”
“Iya, Pak.”

Kemudian saya teringat sebutir permen di dalam saku. Saya ambil permen itu. Saya sodorkan kepadanya.
“Ya sudah, sekarang pulanglah,” kata saya sambil menyerahkan permen itu.

Itulah kisah sebutir permen pada suatu hari di sekolah.


***

Sukoharjo, 21 November 2015



November 18, 2015

Mari Duduk dan Menangis Bersama

Ini kejadian dahulu.

Selama dua hari keadaan kelas tegang. Ruang kelas didominasi oleh raut muka yang jenuh, jengkel, cemberut, sedih, marah. Begitu juga kelas sebelah.

Alkisah, penghuni dua kelas ini sedang mengalami gesekan, khususnya para siswi. Sebut saja kelas A dan B. Kebetulan saya wali kelas B. Mereka bersitegang karena satu dan beberapa masalah. Masalah remaja. Masalah ego, eksistensi diri. Berawal saling melempar ejek, membanding-bandingkan, hingga timbul amarah. Kemudian saling diam.

Awalnya saya tidak menganggap serius masalah ini. Namun setelah dua hari tak menunjukkan masalah ini akan mereda, akhirnya saya berniat menyelesaikan masalah ini. Saya sebagai wali kelas merasa bertanggung jawab membatu para siswa menyelesaikan masalah. Biasanya saya cukup diam dan mengawasi, membiarkan mereka belajar menyelesaikan masalahnya sendiri. Kali ini, kiranya mereka membutuhkan bimbingan.

Sebelum saya sempat menemui mereka, setelah jam pelajaran usai, beberapa dari mereka mendatangi saya. Mereka ingin curhat, menyampaikan permasalahan mereka. Saya pun “diseret” ke dalam kelas.

Di dalam kelas, mereka mulai berbicara. Saya menanyakan akar permasalahannya. Belum lama kami berbincang, para siswi kelas A, melihat dan mendengar perbincangan kami. Mereka pun masuk ke dalam kelas. Mereka bermaksud pula mengadukan permasalahan. Maklum, saya dekat dengan para siswi di kedua kelas itu. 


Jadilah mereka berkumpul dalam satu kelas. Siswi kelas A berkumpul membuat lingkaran dan siswi kelas B membuat lingkaran sendiri. Perhatian mereka tertuju kepada saya.


Saya memberi kesempatan kepada salah satu pihak untuk mengadukan permasalahan mereka. Kemudian, bergantian pihak yang lain. Saya mencegah agar tidak ada yang menyahut saat yang lain berbicara.

Mereka mengadukan beberapa hal: suka mengejek temannya, sikap yang menjengkelkan temannya, merasa dianak-tirikan, perhatian guru yang tidak adil, dan lain-lain yang saya sudah lupa apa saja.

Saat mengungkapkan hal tersebut, beberapa dari mereka sudah tak tahan menahan air mata. Mata mereka berkaca-kaca, beberapa mengalirkan air mata. Maklum, anak putri.

Setelah semua selesai menyampaikan aduan dan pendapatnya, giliran saya yang berbicara. Awalnya, saya meluruskan beberapa hal yang membuat mereka salah paham dan salah sangka. Setelah itu, saya menyampaikan beberapa hal. Saya tidak membahas permasalahan mereka secara detail. Saya tidak bertanya dan mencari tahu siapa yang salah dan siapa yang memulai masalah.

Saya menyampaikan pentingnya persahabatan. Bahwa persahabatan itu berharga. Dan semakin banyak dan besar badai yang menghantam ikatan persahabatan itu, semakin kuat ia. Saya juga menyampaikan beberapa contoh bentuk persahabatan yang kuat yang telah melalui ujian gesekan dan ketegangan.

Saya mengingatkan mereka bahwa sahabat adalah orang yang terlalu berharga untuk dilepaskan hanya karena masalah-masalah kecil. Bahwa setiap sahabat tidak selalu menjadi orang yang kita inginkan, bahkan kadang menjadi sangat menyebalkan. Namun, seperti itulah sahabat.

Dengan itulah saya menyentuh hati mereka. Mereka mendengarkan dengan khyusuk dan kepala tunduk. Hampir semua dari mereka menangis. Wajah-wajah mereka basah oleh air mata. Pipi mereka memerah.

Saya diam sejenak. Saat akan melanjutkan berbicara, salah satu dari mereka menyela ingin berbicara. Setelah menghentikan tangisnya dan mengatur napas, ia mengatakan mewakili teman-teman sekelasnya meminta minta maaf pada teman-teman dari kelas satunya.

Ucapan maaf pun berhamburan. Maaf dan memaafkan. Senyum campur tangis pun menghias wajah-wajah mereka. Kamu bisa membayangkan kan bagaimana wajah yang awalnya menangis sedu kemudian tersenyum-senyum.
 

Lalu kehadiran saya terabaikan, seolah-olah saya tidak ada di situ karena mereka sudah sibuk bermaaf-maafan dan saling cium pipi. 

Saya tak mengira masalah selesai secepat itu. Dari awal perbincangan hingga terucap kata maaf mereka, tak sampai waktu lima belas menit. Saya bersyukur. Mereka memang anak-anak yang baik.

Untuk menyelesaikan masalah dua belah pihak, yang kita butuhkan adalah komunikasi. Duduk bersama. Dalam kasus ini ialah duduk bersama dan menangis bersama. Lalu akan kita lihat seolah-olah mereka tidak pernah saling membenci. Dan persahabatan mereka semakin erat.


***

Sukoharjo, 18 November 2015

November 16, 2015

I Hate Monday?

Upacara hari Senin. I hate Monday?

I hate Monday ‘Aku benci hari Senin’, banyak dirasakan oleh orang yang biasanya memiliki aktivitas pekanan mingguan yang rutin. Mereka beraktivitas mulai hari Senin sampai Jumat atau Sabtu, kemudian menikmati libur pekanan pada hari Minggu. Setelah hari Minggu, biasanya mereka malas untuk memulai aktivitas pekanan yang baru di hari Senin.

Begitu pula seorang siswa. Hari Senin biasanya masih malas untuk masuk sekolah lantaran badan dan pikiran diliburkan selama 2 hari. Di sekolah tempat saya mengajar, kegiatan belajar regular hari Senin – Jumat. Sabtu dan Minggu , para siswa libur. Hari Senin, apalagi ditambah dengan upacara, menjadi hari yang diawali dengan perasaan enggan.

Saya mengalami hal-hal seperti itu sewaktu sekolah dulu. Kini, setelah menjadi guru, sangat jarang saya memiliki perasaan I hate Monday. Justru, setiap hari Senin ada semangat baru. Ada harapan baru. Setelah tak bertemu dengan para siswa selama 2 hari, rasanya ingin melihat mereka lagi. Sekadar melihat senyum dan tawa mereka. Melihat tingkah polah mereka. Melihat mereka berlari-larian.

Senin adalah hari yang baru. Hari yang penuh semangat untuk memulai aktivitas pembelajaran selama sepekan.

Bagi sebagian siswa, mungkin hal itu berlaku juga. Mereka menyambut hari Senin dengan wajah cerah dan mata berbinar. Dua hari tak bertemu teman sekelas memunculkan kangen. Mereka ingin segera bertemu dengan teman-temannya, bercerita, bercanda.

I love Monday. Iya, Senin adalah hari yang dicinta. Hari yang meletupkan kegembiraan. Hari yang mengobati rindu. Semoga.


***
Sukoharjo, 15 November 2015



July 21, 2015

Berekspresi dengan Puisi

Seorang siswa sedang membaca puisi di depan kelas
Saya Sukrisno Santoso -biasa dipanggil Pak Kris, guru Bahasa Indonesia di SMPIT Mutiara Insan Sukoharjo.

Pada sebagian kesempatan luang, saya terkadang membaca puisi; menikmati rimanya dan memaknai isinya. Juga mendengarkan rekaman pembacaan puisi dan musikalisasi puisi. Di kesempatan lain, tak jarang saya menulis puisi, sekadar pelepas emosi (perasaan).
Puisi, khususnya puisi modern, tidak terikat banyak aturan. Bahkan cenderung bebas; manasuka. Menulis puisi bebas akan merangsang pikiran untuk mengeluarkan hal-hal yang seringkali hanya disimpan rapat di dalam hati. Menulis puisi bebas --dengan tema, rima, jumlah baris, jumlah bait yang bebas, dan amanat-- akan mampu membuat seorang siswa bisa mengungkapkan ekpresinya. 


Pengungkapan ekspresi dalam bentuk puisi, tentu lebih baik daripada pengungkapan dalam bentuk kegiatan-kegiatan negatif semisal merokok, berbicara kotor, nongkrong, bermain-main, atau berbuat hal yang buruk. 


Pembacaan puisi, baik karya sendiri maupun karya orang lain, dapat memberikan banyak manfaat bagi perkembangan siswa. Pertama, dengan membaca puisi, siswa berlatih untuk mengatur nada, intonasi, dan artikulasi. Semakin sering membaca puisi, seseorang akan semakin lihai dalam mengolah suaranya, baik nada, intonasi, dan artikulasi. Pengolahan suara ini --kita sebut saja manajemen vokal-- penting dalam komunikasi dengan sesama. Saat berkomunikasi dengan orang lain, kita perlu mengatur vokal kita agar apa yang kita sampaikan bisa diterima dengan baik oleh orang lain.


Kedua, membaca puisi melatih kepekaan terhadap bahasa. Dalam pembacaan puisi, seseorang dianjurkan untuk memaknai puisi yang akan dibacanya terlebih dahulu. Puisi --dengan susunan kata yang biasanya teratur dan indah-- akan meningkatkan pemahaman siswa terhadap fungsi bahasa. Dengan begitu, siswa akan selalu mencoba untuk mendengarkan dengan baik apa yang disampaikan orang lain. Siswa juga akan selalu berusaha mengeluarkan kata-kata yang baik; kata-kata yang bisa diterima orang lain dan tidak menyakiti orang lain. 


Ketiga, membaca puisi memberikan rasa keberterimaan siswa dalam komunitasnya (teman satu kelas). Ketika seseorang diberi kesempatan untuk berbicara dan orang lain mendengarkan maka ia akan merasa dihargai. Ia merasa diakui eksistensinya. Membaca puisi dan didengarkan orang lain akan memberikan perasaan dihargai bagi siswa. Ia akan merasa bahwa teman-temannya mau mendengarkannya, mau menghargainya.


Keempat, membaca puisi --khususnya di depan umum-- melatih kepercayaan diri siswa. Kegiatan membaca puisi lebih sulit daripada berpidato formal. Dalam membaca puisi, seseorang diharuskan menjiwai isi puisi, membaca dengan nada dan intonasi yang sesuai dengan isi puisi. Membaca puisi juga terkadang diserta dengan gerak anggota badan yang mendukung penjiwaan isi puisi. Membaca puisi benar-benar melatih mental siswa untuk tampil di depan umum. Kepercayaan diri siswa akan meningkat seiring dengan seringnya membaca puisi di depan umum.


Kelima, membaca puisi adalah hiburan. Membaca puisi --khususnya puisi bebas yang ringan-- bisa menjadi hiburan; sebuah selingan di antara kesibukan belajar siswa. Ketegangan pikiran dapat disebabkan proses pembelajaran dengan materi berat tanpa disertai dengan hiburan. Membaca puisi bisa bermafaat sebagai refreshing pikiran; mengistirahatkan pikiran sejenak agar memiliki daya untuk proses pembelajaran selanjutnya.

***
Sukoharjo, 22 Juli 2015




July 19, 2015

Sang Pendidik: Ujung Tombak Pendidikan

 
Awan berarak menaungi langit SMPIT Mutiara Insan Sukoharjo. Waktu menunjukkan pukul dua siang. Namun, sepertinya matahari enggan memunculkan dirinya. Beberapa siswa laki-laki terlihat asyik bermain-main dengan bola di halaman sekolah.

Beberapa saat kemudian turunlah butiran-butiran air. Hanya rintik-rintik. Gerimis kecil di siang hari. Karena sepatuku berada di halaman, aku pun berniat mengambilnya agar tidak basah terkena air hujan. Namun, belum sempat aku meraih sepatu itu, seorang siswa yang tadi bermain bola, terlihat berlari-lari kecil menuju ke arahku. Kemudian, hal yang dilakukan siswa tersebut membuatku agak kaget. Ia mengambilkan sepatuku dan meletakkannya di tempat yang tidak terkena air hujan.

Aku merasa kaget karena siswa tersebut melakukannya tanpa diminta. Ia pun melakukannya dengan senang hati. Lalu terlintas dalam pikirannku, pendidikan macam apakah yang mampu membangun akhlak yang baik seperti itu. Apakah kurikulum yang mampu membangun karakter tersebut? Apakah buku bacaan? Ataukah fasilitas sekolah?

Dari berbagai unsur yang terkait dengan pendidikan, faktor humanity-lah yang berperan penting dalam membentuk karakter siswa. Guru sebagai instrumen pendidikan mempunyai peranan penting bagi siswa dalam pembentukan karakter. Guru sebagai eorang pendidik, bersentuhan langsung dengan siswa.

Guru menjadi “pasukan terdepan” dalam perjuangan pencapaian tujuan pendidikan. Karena posisinya tersebut, tak urung terkadang guru menjadi “martir” dalam pelaksanaan kebijakan-kebijakan dalam bidang pendidikan. Seringkali guru dipersalahkan jika kualitas pendidikan menurun. Tak heran, saat wacana pergantian kurikulum digulirkan, sebagian guru melakukan protes. Mereka adalah “prajurit lapangan” yang bersentuhan langsung dengan peserta didik, orang tua/wali, dan masyarakat. Mereka memahami permasalahan-permasalahan yang akan timbul dengan adanya pergantian kurikulum.

Membandingkan kesejahteraan guru saat ini dengan masa lalu tentu jauh berbeda. Profesi guru masa lalu benar-benar panggilan nurani. Berapakah yang bisa diharapkan dari gaji seorang guru. Tentu pikiran kita lekat dengan lagu “Oemar Bakri” yang dilantunkan dengan suara fals itu. Lagu yang menunjukkan bagaimana perjuangan guru yang benar-benar “Pahlawan tanpa tanda jasa”.

Kini, banyak orang berlomba-lomba menjadi guru. Tentu saja, siapa yang tidak ingin mendapatkan gaji yang besar ditambah tunjangan sertifikasi dan jaminan uang pensiun. Setiap tahun banyak orang berbondong-bondong mengikuti tes CPNS. Profesi guru menjadi “naik kelas”.

Peningkatan martabat dan kesejahteraan guru menerbitkan harapan akan majunya pendidikan di Indonesia. Saat ini banyak guru yang sudah menikmati kehidupan sejahtera. Namun, saat ini pun masih banyak “Oemar Bakri - Oemar Bakri” yang lain. Di Sekolah Dasar di daerah pinggiran kota Solo ada guru-guru yang benar-benar berjuang untuk pendidikan. Di sekolah yang jumlah siswanya sedikit ini, mereka berjuang mendidik siswa-siswanya yang sebagaian besar berasal dari golongan pengemis dan pemulung. Bukan gaji yang besar yang akan didapatkan oleh para guru tersebut. Bahkan, gaji mereka sangat kecil yang hanya cukup untuk biaya transportasi pulang-pergi ke sekolah.

Beberapa guru di sebuah madrasah di Klaten rela tidak mendapatkan gaji selama lima bulan. Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang akan digunakan untuk biaya operasional dan gaji guru tidak kunjung cair. Sekolah yang tidak memungut biaya dari orang tua siswa tersebut memang diperuntukkan bagi masyarakat menengah ke bawah. Salah satu guru sekolah tersebut mengungkapkan, “Honor tidak menjadi masalah. Semangat mengajar kami tidak berkurang, namun justru tertantang.” (Solopos, 10 Mei 2013) 
 
Di tengah-tengah semaraknya seremoni pendidikan di Indonesia –dengan meningkatnya gaji guru, seringnya pergantian kurikulum, serta program RSBI yang berujung semrawut itu– masih ada para pendidik yang benar-benar berjuang dan menjadi ujung tombak pendidikan. Berbagai kisruh dalam dunia pendidikan seakan tidak terdengar bagi mereka. Mereka bekerja dengan hati melaksanakan misi yang orang lain enggan melakukannya. Mereka mendidik dengan tulus karena tugas guru adalah mendidik. Itu saja.

--------------------------------------------------------------------------------
*) Artikel ini dimuat dalam majalah Figur edisi Mei 2013 yang diterbitkan oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Figur, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Surakarta


July 11, 2015

Tarbiyatul Aulad Fil Islam (Pendidikan Anak dalam Islam) Karya Abdullah Nashih 'Ulwan

Tarbiyatul Aulad Fil Islam (Pendidikan Anak dalam Islam) Karya Abdullah Nashih 'Ulwan

Judul buku: 
Tarbiyatul Aulad Fil Islam (Pendidikan Anak dalam Islam)
Penulis: Dr. Abdullah Nashih 'Ulwan
Penerbit: Insan Kamil
Halaman: 906 halaman
Sampul: Hard Cover
Harga: Rp. 105.000 
-------------------------------------------------------

Pendidikan terhadap anak merupakan faktor penting yang sangat diperhatikan di dalam Islam. Buktinya, Nabi muhammad SAW sangat menekankan hal ini kepada para shahabatnya. Sejarah telah mencatat, ada banyak kaidah pendidikan yang dicetuskan oleh Islam. Meskipun zaman telah berganti, kaidah-kaidah tersebut tetap relevan untuk diterapkan di masyarakat.

Hanya saja, konsep pendidikan Islam yang luhur itu mulai diabaikan oleh beberapa pendidik. Padahal, jika ditilik dari segi kelengkapannya tentu konsep inilah yang paling lengkap, karena tidak hanya mementingkan pendidikan yang bersifat duniawi tetapi juga ukhrawi. Sedangkan konsep lainnya lebih cenderung berat sebelah.

Melalui buku ini, Anda akan mengetahui betapa luas konsep pendidikan anak di dalam Islam. Apalagi risalah ini adalah buah karya dari seorang pakar yang memang menggeluti bidang pendidikan Islam, yaitu Dr. Abdullah Nashih Ulwan. Menariknya, penulis tidak hanya menawarakan konsep pendidikan saja, tetapi juga beberapa pemecahan terhadap masalah kenakalan remaja yang jamak terjadi di masyarakat. Bahkan, penulis juga menyampaikan beberapa tanggung jawab pendidik yang salah satunya adalah tanggung jawab pendidikan seksual kepada anak.

Oleh karena itu, tak berlebihan jika buku ini mendapat predikat sebagai karya yang fenomenal.



--------------------------------------------------------------------
Cara pembelian
SMS dengan format :
(buku) TARBIYATUL AULAD FIL ISLAM (nama) (alamat)
Kirim ke : 0856 4231 8421


Contoh:
(buku) 
TARBIYATUL AULAD FIL ISLAM (Santoso) (Kec. Grogol, Kab. Sukoharjo)

Selanjutnya kami akan segera membalas dan memproses pesanan anda.
Informasi pembelian buku:
Telp/SMS: 0856 4231 8421
Pin BBM: 5782EAE1


Prosedur pembelian
1. Kirim SMS pesanan ke nomor 0856 4231 8421.
2. Kami akan konfirmasi harga dan biaya kirim (pengiriman barang melalu jasa pengiriman JNE)
3. Membayar sejumlah harga pesanan dan biaya kirim ke rekening:

a) Bank Muamalat a.n. Sukrisno Santoso. Nomor rekening: 5300001052 b) Bank Syariah Mandiri (BSM) a.n. Sukrisno Santoso, Nomor rekening: 7076497065

4. Kami akan mengirimkan pesanan setelah transfer pembayaran sudah masuk.
5. Kami akan mengirimkan SMS yang berisi nomor resi pengiriman sebagai bukti bahwa barang pesanan benar-benar sudah dikirim.

Mendidik Anak Bersama Nabi Karya Muhammad Suwaid

Mendidik Anak Bersama Nabi Karya Muhammad Suwaid

Judul asli: Manhaj At-Tarbawiyah An-Nabawiyyah Lith-Thifl
Judul terjemahan: Mendidik Anak Bersama Nabi
Penulis:  Muhammad Suwaid
Penerbit:  Pustaka Arafah
Ukuran:  15 x 23 cm
Halaman:  529 halaman
Harga: Rp 90.000,-
--------------------------------------------------------

Buku Mendidik Anak Bersama Nabi ini berisi rahasia metode pendidikan anak yang dituntunkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan bersumber dari ayat-ayat Al-Qur’an dan As-Sunnah, yang dapat diterapkan langsung dalam kehidupan sehari-hari. Buku Mendidik Anak Bersama Nabi ini dapat membantu Anda menangani masalah pendidikan anak yang kompleks. Saat ini kenakalan remaja menjadi isu hangat di seluruh pelosok negeri. Maka disini pentingnya pendidikan anak sejak dini. Karena saat sang anak sudah menginjak usia remaja, akan sulit diarahkan dan kenakalan mereka tentunya membuahkan rasa sakit tersendiri bagi orang tuanya.

Saat ini banyak orang tua yang kebingungan bagaimana cara mendidik anaknya. Kebanyakan dari mereka yang tidak dibekali ilmu agama dari alquran dan sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam hanya mengajarkan anaknya sesuai adat yang berlaku di daerahnya, mengikuti berjalannya waktu. Padahal agama islam yang mulia ini telah mengatur perkara ini secara lengkap seperti yang disajikan dalam buku Mendidik Anak Bersama Nabi ini .

Pendidikan anak adalah perkara yang sangat penting di dalam Islam seperti yang ditekankan dalam buku Mendidik Anak Bersama Nabi ini. Di dalam Al-Quran kita dapati bagaimana Allah menceritakan petuah-petuah Luqman yang merupakan bentuk pendidikan bagi anak-anaknya. Begitu pula dalam hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kita temui banyak juga bentuk-bentuk pendidikan terhadap anak, baik dari perintah maupun perbuatan beliau mendidik anak secara langsung.

Seorang pendidik, baik orangtua maupun guru hendaknya mengetahui betapa besarnya tanggung-jawab mereka di hadapan Allah ‘azza wa jalla terhadap pendidikan putra-putri islam. Allah ta’ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu”. (At-Tahrim: 6). Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Setiap di antara kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban” (HR. Bukhari dan Muslim).

Untuk itu -tidak bisa tidak-, seorang guru atau orang tua harus tahu apa saja yang harus diajarkan kepada seorang anak serta bagaimana metode yang telah dituntunkan oleh Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana yang ada dalam buku Mendidik Anak Bersama Nabi.
--------------------------------------------------------------------

Cara pembelian
SMS dengan format :
(buku) MENDIDIK ANAK BERSAMA NABI (nama) (alamat)
Kirim ke : 0856 4231 8421


Contoh:
(buku) 
MENDIDIK ANAK BERSAMA NABI (Santoso) (Kec. Grogol, Kab. Sukoharjo)

Selanjutnya kami akan segera membalas dan memproses pesanan anda.
Informasi pembelian buku:
Telp/SMS: 0856 4231 8421
Pin BBM: 5782EAE1


Prosedur pembelian
1. Kirim SMS pesanan ke nomor 0856 4231 8421.
2. Kami akan konfirmasi harga dan biaya kirim (pengiriman barang melalu jasa pengiriman JNE)
3. Membayar sejumlah harga pesanan dan biaya kirim ke rekening:

a) Bank Muamalat a.n. Sukrisno Santoso. Nomor rekening: 5300001052 b) Bank Syariah Mandiri (BSM) a.n. Sukrisno Santoso, Nomor rekening: 7076497065

4. Kami akan mengirimkan pesanan setelah transfer pembayaran sudah masuk.
5. Kami akan mengirimkan SMS yang berisi nomor resi pengiriman sebagai bukti bahwa barang pesanan benar-benar sudah dikirim.



Berlatih Menulis dengan Menyenangkan (Catatan Pak Guru #12)

Anggota Jurnalistik SMPIT Mutiara Insan melaksanakan rekreasi ke Pantai Baron, Gunungkidul, Yogyakarta.
Saya Sukrisno Santoso -biasa dipanggil Pak Kris, Pembina ekstrakurikuler Jurnalistik di SMPIT Mutiara Insan Sukoharjo.

Selama ini, menulis adalah salah satu tugas yang dihindari siswa. Membaca saja sudah menjadi beban berat bagi sebagian dari mereka, apalagi menulis. Berlatih menulis dengan cara yang menyenangkan tentu akan menarik bagi siswa.

Sebagai Pembina Jurnalistik, saya memikirkan bagaimana cara agar para siswa -khususnya anggota Jurnalistik- dengan senang hati berlatih menulis. Pada awal tahun pelajaran, saya menyusun program kerja Jurnalistik. Tak lupa anggaran biaya yang dibutuhkan untuk melaksanakan program tersebut.

Pembelajaran Jurnalistik di antaranya: (1) meliput kegiatan (berwawancara, memotret, dan menulis berita), (2) Menulis artikel tentang seorang tokoh (berwawacara, menulis artikel), (3) menulis fiksi (cerita pendek, puisi). Selain itu, ada agenda outingclass, misalnya kunjungan ke pameran buku atau penerbit buku.

Untuk menumbuhkan motivasi siswa dalam mengembangkan keterampilan menulis siswa, saya mencoba melakukan proses pembelajaran yang menyenangkan. Misalnya dalam pembelajaran menulis cerpen, saya mengatakan kepada para siswa bahwa hasil karya mereka jika bagus akan dimuat di majalah Mutiara Insan.

Jurnalistik juga akan membuat jas keanggotaan. Tentu mereka senang jika memilik jas yang keren. Untuk membeli jas tersebut, mereka harus membayar setengah dari harga jas tersebut. Dan setengahnya, mereka bayar dengan sebuah cerpen. Dengan segera, mereka pun bersemangat menulis cerpen. Dalam waktu tak lebih dari satu bulan, mereka sudah bisa mengenakan jas Jurnalistik kebanggaan mereka.

Dalam proses pembelajaran, tak jarang pula saya mengajak mereka ke warung makan. Kegiatannya biasanya santai, diisi dengan diskusi ringan. Materi penyuntingan saya sampaikan saat di warung makan. Saya meminta mereka membawa laptop. Saya menjelaskan proses penyuntingan kalimat, kemudian mereka mengerjakan tugas (menyunting kalimat) yang saya berikan. Setelah tugas selesai dikerjakan, didatangkanlah hidangan makan siang.

Untuk menjaga motivasi menulis siswa, sejak awal tahun pelajaran saya sampaikan kepada mereka bahwa pada akhir tahun pelajaran nanti akan dilaksanakan rihlah (rekreasi) yang tidak dipungut biaya alias gratis. Namun, syaratnya adalah mereka harus mengerjakan setiap tugas menulis yang saya berikan. Sebagian tugas menulis tersebut akan dimuat di majalah Mutiara Insan sehingga mendapatkan honorarium yang bisa digunakan untuk biaya operasional kegiatan Jurnalistik.

Demikianlah, pada akhir tahun pelajaran, saya mengajak mereka rekreasi ke pantai di Gunungkidul, Yogyakarta. Juga ke Embung Nglanggeran dan Bukit Bintang.
***

Sukoharjo, 12 Juli 2015

October 10, 2014

Penilaian Apresiasi Seni Sastra (Catatan Pak Guru #11)

Nilai salah satu tugas Bahasa Indonesia: Menulis Cerita Penden berdasarkan pengalaman pribadi

Kurikulum 2013 menerapkan penilaian dengan range 4-1. Kalau dikonversi ke dalam huruf menjadi A, B, C, dan D. Nilai tertinggi ialah 4 atau A. Sebagaimana diterapkan dalam perkuliahan.

Sebelum diterapkan sistem penilaian kurikulum 2013 tersebut, saya sudah menerapkannya sejak tahun pelajaran yang lalu. Tugas-tugas Bahasa Indonesia yang dikerjakan para siswa, saya beri nilai A, B, atau C.

Sebagian tugas Bahasa Indonesia tidak mudah untuk menilainya. Hal ini karena terkait dengan rasa, karsa, perasaan, bahkan juga subyektivitas.

Misalnya, tugas menulis puisi bebas dan menulis cerpen, atau menganalisisnya. Tugas tersebut sangat terkait dengan perasaan, emosional, dan imajinasi.

Dalam tugas tersebut, siswa diharapkan untuk bisa mengungkapkan perasaan, imajinasi, bayangan-bayangan yang ada di dalam hati dan pikiran ke dalam larik-larik kata yang bersusun. Hal itu dibarengi pula dengan usaha menciptakan susunan kata yang indah dan unik.

Menilai tugas semacam itu bukanlah pekerjaan yang mudah. Saya harus menghayati isi puisi tersebut. Juga harus memperkirakan suasana hati penulisnya. Selain itu, keindahan dan keunikan puisi juga perlu dipertimbangkan.

Keindahan sebuah puisi atau kemenarikan sebuah cerpen, sangat sulit dinilai dengan angka, misalnya 75, 80, atau 90. Lebih nyaman saya menggunakan huruf A, B, atau C -meskipun nilai dengan huruf tersebut bisa dikonversi dalam bentuk angka.

Puisi dengan bahasa yang mengalir, yang mampu mengungkapkan apa yang dirasakan siswa, itulah puisi dengan nilai bagus. Tak segan-segan saya beri nilai A.

Kalau puisinya terasa kering, gersang, tak enak dibaca, dan dibuat asal-asalan tanpa melibatkan perasaan atau emosional, tak segan pula saya beri nilai C. Bagi pelajaran saya, nilai C artinya remidi (mengulang).

Demikian.

 ***

Sukoharjo, 10 September 2014